Teknik Komunikasi dengan Anak


Teknik Komunikasi dengan Anak

Sebelum menikah, saya pernah bekerjasama dengan ibu Elly Risman sebagai Board of Consultant untuk program televisi anak-anak pada channel tv kami. Saat pertama bertemu beliau, saya yang sedang hamil kerap dibuat berkaca-kaca mendengar omongan beliau tentang anak-anak (ehm, selain hormon, emang juga cengeng :D

Setelah melahirkan dan Langit mulai beranjak besar, banyak sekali omongan-omongan ibu Elly yang saya ingat. Contoh kecil, “Sudahkah kamu memeluk anakmu hari ini?” atau, “Namakan hal yang sedang dirasakan anak, seperti senang, sedih, kesal, dan seterusnya”. Dan Alhamdulillah,saya praktikkan hingga saat ini.

Sabtu 26 Februari lalu, supermoms-id menyelenggarakan sesi 1 dari rangkaian acara Seminar pengasuhan Anak bersama ibu Elly Risman. Materinya saat itu adalah Komunikasi Pengasuhan Anak. Mungkin banyak yang mikir ya, “ah masa masalah komunikasi dibikin seminar sendiri. Masih kecil gitu loh, anak gue..” atau “masa ngomong aja mesti diatur sih?”.  Tapi begitu dijembreng sama ibu Elly masalah komunikasi dengan anak ini, langsung banyak mommies (dan para ayah) peserta seminar yang ‘tertampar’. Apa saja sih, ini kita catat poin-poinnya:

Baca selengkapnya »

Mendidik Anak Di Era Digital


Mendidik Anak Di Era Digital

Tanggal 1 September 2012 lalu, kami datang ke Seminar Tetralogy-nya Supermoms yang bertemakan Tantangan Mendidik Anak di Era Digital. Ruangan di Jakarta Design Center pagi itu sudah ramai oleh sekitar 250 orangtua hebat. Kenapa saya bilang orangtua hebat? Bayangkan, Sabtu pagi, datang ke JDC untuk mendengarkan seminar. Langkah yang sangat tepat dan patut dihargai bagi para orangtua, karena orangtua, kan, nggak ada sekolahnya :)

Pembicara, Ibu Elly Risman, membuka seminar dengan berbagai data dan fakta mengejutkan seputar dunia digital dan anak-anak. Misalnya, huruf dan symbol beraneka rupa yang jika dibaca ternyata merupakan sebuah kalimat menyatakan kepuasan pasca berhubungan seksual (dan ini dikirimkan oleh anak SMP) atau hasil survei bahwa 85% dari responden yang terdiri dari anak usia kelas 4,5,6 SD sudah kecanduan konten pornografi.

Segitu bahayakah pornografi bagi anak-anak?

Pornografi menyerang otak bagian Pre Fontral Cortex (PFC). Bagian otak yang ini adalah tempat moral dan nilai yang bertanggung jawab untuk perencanaan masa depan, pengontrolan emosi, pengontrolan diri dan konsekuensi, serta pengambilan keputusan. Bagian otak ini akan matang di usia 25 tahun.

Nah, bayangkan jika konten pronografi sudah diekspos ke anak-anak kita?

“Ah, anak saya, kan, masih kecil, balita, mana ngerti?”

“Anak saya anteng kalau dikasih gadget”

“Anak saya tertarik banget sama gadget, soalnya”

Ya, semakin berkembangnya zaman, memang kehadiran gadget memudahkan hidup kita. Tanpa sadar, terkadang pengasuhan anak juga kita serahkan ke gadget. Ngaku, nih, saya sering membiarkan Langit nonton TV sendiri sementara saya melakukan hal lain atau kasih handphone yang ada games ‘Fruit Ninja’ kalau saya sedang asyik nonton TV. Atau yang sejak hamil atau sambil menyusui, mantengi Twitter, mana suaranyaa..? :D

Nah, anak, kan, produk tiruan. Siapa yang ditiru? Ya, orang terdekatnya, dong. Siapa itu? Ya, orangtuanya. Jika sejak kecil anak melihat kita mesra sama gadget, nggak heran anak-anak juga lebih mesra sama gadget ketimbang sama kita.

Kalau sudah begini, siapa yang salah? Coba bertanya pada diri sendiri, siapa yang menyediakan koneksi internet di rumah? Siapa yang memutuskan berlangganan TV kabel di rumah? Hehehe *speechless*

Dari responden di atas, tempat anak melihat materi pornografi, 32% lihat di rumah sendiri, 16% bioskop, 12% warnet. Sisanya dari telepon selular sopir, rumah teman, dan jengjenggg … VCD punya mama dan bbm grup mama (!!!). Beware parents, menurut hemat saya, jika orangtua menyimpan atau memiliki konten pornografi, JANGAN  simpan atau dibawa ke rumah, deh. Seaman-amannya tempat penyimpanan, kita nggak pernah tahu, kan?

Ibu Elly Risman menunjukkan beberapa situs permainan anak, tapi ternyata mengandung konten pornografi. Entah itu di dalam games, atau tiba-tiba pop up iklan yang muncul. Sangat mengagetkan, lho, melihat isinya. Pastikan kita juga tahu apa games yang dimainkan anak. Jangan cuma lihat cover-nya (banyak sekali games yang jelas-jelas ada tanda 18+ atau M yaitu Mature, tapi dimainkan oleh anak-anak) tapi coba dampingi anak saat memainkannya. Contoh, nih, ya … ada games yang konon lagi hits di kalangan anak SD, judulnya ‘Rape Play’. Kebayang nggak isinya apa?

Lalu, bagaimana menetralkan jika anak-anak sudah kecanduan perangkat digital atau malah (amit-amit) pornografi?

    Rumuskan ulang pola pengasuhan dengan pasangan. Menurut Ibu Elly, banyak sekali pasangan yang menikah, punya anak, tapi lupa merumuskan pola pengasuhan. Ini mengakibatkan tidak konsistennya peraturan dalam sebuah rumah sehingga banyak anak merasa bingung harus mengikuti ayah atau ibu.

    Bedakan pola pengasuhan antara anak perempuan dan laki-laki. Anak laki-laki di atas usia 7 tahun butuh banyak waktu dengan ayah untuk mengenal dunia laki-laki. Sementara anak perempuan tetap butuh peran ayah, karena pelukan atau  penghargaan dari ayah akan membuat dirinya merasa berarti.

    Jika anak sudah telanjur terekspos pada konten pornografi, jangan panik atau marah. Tanyakan anak apa penyebabnya, lalu minta maaf pada anak. Patut disadari, peran orangtua baik langsung atau tidak langsung pasti ada di sana. Jangan gengsi untuk minta maaf sama anak, ya :)

Pada intinya, anak membutuhkan validasi 3P: Penerimaan, Penghargaan, dan Pujian. Sudahkah kita melakukannya?

Menghindari Kekerasan Seksual Pada Anak


Menghindari Kekerasan Seksual Pada Anak

Seberapa sering kita mendengar berita mengenai tindak kekerasan seksual pada anak-anak? Sering? Apa reaksi kita sebagai orangtua? Takut? Khawatir? Cemas? Bingung? Marah? Apapun yang dirasakan, pernahkah kita refleksi sendiri, bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita?

Menggantikan baju di muka umum, misalnya. “Ah, anak saya baru 4 tahun, nggak apa-apalah.” Atau memakaikan pakaian renang ala bikini dengan alasan, “Lucu, lagipula masih 2 tahun ini.” Hello, masih ingat berita mengenai perkosaan terhadap bayi usia 8 bulan tahun lalu?

Urusan kekerasan seksual, untuk usia berapa pun, saya rasa kita wajib parno!

Jika dulu biasanya yang menyukai anak-anak secara seksual disebut sebagai pedofili, maka hemat saya sekarang ini, semua bisa melakukannya. Amit-amiiiiit jangan sampe (terjadi)!

Makanya, ketika tema dari salah satu seminar Tetralogy Supermoms adalah Hindari Anak Dari Kekerasan Seksual, saya mengikutinya dengan seksama. Ini masalah serius sekali. Bukan karena anak saya perempuan, tapi bagi semua orangtua masalah ini penting.

Warning: artikel ini akan banyak sekali kalimat tanya, karena memang banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab secara jujur dan terkejut dengan jawabannya :D

Apa saja yang termasuk kekerasan seksual?
Menunjukkan kemaluan, membelai anak atau menyentuh bagian sensitif anak, atau bahkan melakukan perkosaan.

Yang ‘enteng’ seperti mengolok-olok atau bercanda yang menjurus porno atau menyingkap rok teman, misalnya juga termasuk tindak kekerasan seksual.

Siapa yang melakukannya?
Ternyata, di negara manapun, pelaku tindak kekerasan  seksual anak adalah orang yang dikenal. Mereka melakukannya dengan mengancam atau merayu anak.

Kenapa bisa terjadi?
Saya tidak mau membahas dari sisi pelaku. Satu kata saja, sih, untuk mereka: rusak! Ya, rusak mentalnya karena pengaruh pornografi yang semakin merajalela. Seberapa sering kita melihat berita perkosaan atau kekerasan seksual di mana pelakunya kemudian mengakui bahwa mereka baru melihat konten pornografi?

Dari sisi sebagai orangtua, kita sering menghiraukan perasaan anak. Kebanggaan kita kadang hanyalah seputar kalau anak pintar makan, pintar menulis, membaca, juara kelas, rajin belajar, dan hal-hal fisik semacamnya. Bagaimana dengan perasaan mereka? Konsep diri mereka? Sudahkah kita memikirkannya? Sudahkah kita mengajarkannya?

Saya berbagi cerita sedikit, beberapa waktu lalu, ada seorang anak dari kerabat saya yang mengalami tindak kekerasan seksual. Ia baru duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Setelah menjadi korban, ia tidak bercerita pada ibunya, ia memilih untuk bercerita pada temannya. Temannya ini lalu cerita ke mamanya, dan mamanya lah yang bercerita pada kerabat saya tersebut.

Pahamkah maksud saya? Kita memang harus berperilaku sebagai orangtua, tapi tetap kita harus menjadi orang kepercayaan anak. Di mana anak harus bisa bercerita masalah apapun kepada kita. Terutama jika musibah terjadi pada dirinya.

Sakit sekali hati kerabat saya saat itu. Sudah anaknya menjadi korban tindak kekerasan seksual, ia merasa tidak dipercaya pula karena buah hatinya memilih menceritakan tragedi itu ke temannya, bukan ke ibunya.

Singkat cerita, si pelaku ‘diadili’ oleh pemuka agama sekitar. Ia pun mengaku bahwa sering menyaksikan konten pornografi. Dan salah satu konten tersebut ia dapatkan dari, jengjeng ... HP milik mamanya. Ingat artikel Mendidik Anak Di Era Digital?

O, ya, pelaku masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, lho!
Yang bisa kita tarik dari cerita ini adalah, komunikasi itu penting! Bukan sekedar, “Kamu udah makan belum?”, “Ada PR nggak, hari in?”, “Ayo, mandi dulu”, “Besok ulangan, sudah belajar belum?”, “Kamu main melulu, belajar dong!”. Apalagi kalau kita melakukannya sambil melakukan hal lain, seperti misalnya pegang smartphone, scrolling timeline Twitter #jleb.

Kenali anak, siapa sahabatnya, di sekolah bergaul dengan siapa, perasaannya hari itu bagaimana. Sisihkan waktu setiap hari untuk menjalin komunikasi. Di mana antara kita dan anak hanya ngobrol, tidak diganggu dengan hal lain.

Ajari anak untuk berpikir kritis. Caranya bagaimana? Dengan memberikan kesempatan anak untuk memilih, bukan menjalankan perintah. Misalnya, “Kamu mau makan apa hari ini?” bukan “Kamu makan pakai telur saja, ya” (itu contoh mudahnya). Contoh lain, “Pacaran itu apa ya, Ma?”, jangan buru-buru menjawab “Eh, anak kecil nggak boleh pacaran.” Tahu, kan, manusia itu semakin dilarang malah jadi penasaran? Sebaiknya, tanyakan pada anak, “Menurut kamu pacaran itu apa?”, dari jawabannya ini, baru kita bisa memberikan jawaban lagi. Kalau saya, sih, dengan jawaban si anak, setidaknya kita bisa cek sejauh mana pembicaraan anak dengan teman-temannya (asumsi bahwa kata pacaran ini dibicarakan oleh anak dengan teman-temannya, ya)

Pertanyaan-pertanyaan pada anak, membuat anak berpikir dan memeriksa dirinya. Mungkin jawaban yang didapat nggak penting, tapi yang penting adalah proses berpikir yang telah terjadi di otak anak.
Ah, ya, ini bukan hanya tugas ibu, lho! Ayah juga wajib!

Seperti telah disinggung dimana-mana, peran ayah dalam pola asuh memberikan kontribusi besar dalam konsep diri anak. Ayah mengajarkan anak lebih berani dan jika ayah bisa mengungkapkan rasa kasih sayangnya, anak akan merasa dirinya berharga. Kenapa? Karena para ayah umumnya dikenal minim campur tangan untuk urusan keseharian anak. Karena hal ini lah,maka yang pantas memberitahukan anak mengenai konsep diri adalah ayah. “Kamu sangat berharga buat ayah”, kebayang nggak Mommies, kalau ayah kita berbicara hal itu pada kita?
Bukan hanya kerjasama antara ayah dan ibu sangat penting, tapi dengan lingkungan sekitar juga.
Pertama, lingkungan yang ikut dalam pengasuhan, misalnya nenek/ kakek, pengasuh/ pembantu, bahkan sopir juga termasuk. Jelaskan pada mereka tujuan atau rumusan pengasuhan yang dimiliki oleh ibu dan ayah. Pastikan mereka memahami dan menghargai tujuan tersebut sehingga mereka mau mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku dalam keluarga. Apa itu rumusan pengasuhan? Baca wawancara saya dengan Ibu Elly Risman, deh!

Kedua, kerjasama dengan tetangga, sekolah atau orangtua teman si anak. Dengan yang terakhir ini kita bisa saling membantu untuk menjaga dan mengawasi anak-anak kita. Ingat cerita saya mengenai pertemanan dengan sesama orangtua murid di sekolah? Saya rasa ini bermanfaat, kok. Kadang kita memang tidak nyaman masuk ke lingkungan baru, tapi percayalah, bagi para working mommies, salah satu sumber terpercaya mengenai kecurigaan terhadap sesuatu di lingkungan sekolah adalah dari para orangtua murid.

Ketiga, kerjasama dengan lingkungan rumah (RT/RW), misalnya mengawasi warnet atau lokasi penyewaan permainan (rental PS, komik atau semacamnya), pastikan bahwa disana tidak ada konten-konten yang merusak anak-anak kita.

Setelah itu, ajari anak untuk membedakan antara orang asing, kenalan, sahabat, teman, kerabat atau muhrim. Pasti menyenangkan, ya, kalau punya anak ramah dengan siapapun yang baru saja ditemuinya, tapi di zaman yang semakin edan ini, parno itu wajib!

Yang terpenting lagi, ajari anak mengenai sentuhan. Ibu Elly Risman membagi jadi 3 sentuhan:
  • Sentuhan boleh atau baik, jika dilakukan di atas bahu atau di bawah lutut. Catatan, sentuhan ini dengan menggunakan tangan. Jadi kalau mencium bagaimana? Menurut saya, hanya bisa dilakukan untuk kerabat saja. O, ya, untuk pasangan yang sering bertukar cium, sebaiknya agak berhati-hati, ya, karena biar bagaimana anak adalah peniru ulung. Kalaupun melakukannya di depan anak, jelaskan pada mereka bahwa ciuman (entah di dahi, pipi atau bibir yang dilakukan) itu hanya boleh dilakukan oleh siapa dan dalam keadaan bagaimana.
  • Sentuhan yang membingungkan, dilakukan di bawah bahu hingga atas lutut. Kenapa membingungkan, bagaimana kalau merangkul? Memeluk? Membingungkan karena harus bisa dibedakan maksud dan tujuan seseorang melakukan sentuhan tersebut. Tapi ajari anak untuk merasa waspada pada sentuhan model ini.
  • Sentuhan jelek atau terlarang, bagian yang tertutup pakaian renang. Kalau sudah melakukan sentuhan di area ini, anak HARUS berani menolak.
Masa, sih, segitu parnonya?

Percaya kan kalau anak punya insting? Anak saya termasuk ramah pada orang lain, tapi jika sekali waktu dia nggak mau bersalaman atau kenalan sama orang baru, maka saya percaya instingnya mengatakan sesuatu, entah apa, tapi ada hal yang membuat ia tidak nyaman. Untuk anak yang sudah lebih besar, ajari ia untuk mempercayai instingnya.

Lalu ajari anak untuk berani berkata tidak pada saat ia merasa dirinya terancam oleh orang lain.
Tentu semua ini hanya bisa terjadi jika komunikasi kita dengan anak terjalin dengan baik. Sekedar mengingatkan, yuk, baca artikel Tekhnik Komunikasi Dengan Anak.

Jika semua sudah dilakukan dan dirasa sudah bisa diterapkan, langkah selanjutnya adalah berdoa. Yap, sekuat-kuatnya manusia, ia butuh bantuan ‘invisible hand’ kadang-kadang :)

Romantisme Semu dan Cinta Palsu

Romantisme Semu dan Cinta Palsu


belum juga jadi suami, tapi minta diperlakukan kayak suami | tanggung jawab nggak mau, tanggal nikah nggak punya

belum juga jadi istri, mau-maunya dipelakukan kayak istri | dilihat, diraba, diterawang, rugi deh..

temen bukan, suami-istri masih jauh, hubungan berdasar janji nggak pasti | besok pas udah diputusin, dikasi gelar "bekas gue", waduh

dosa udah pasti dapet, susah juga iya, sakit ati sering, mau-maunya makan harapan palsu | masa lalu kelam, masa depan suram, kini seram..

cowok sih enak, dia kan subjek pelaku, lha ini cewek, objek penderita euy | mau-maunya, di-PHP

cowok mah nggak ilang apa-apa, makanya gampang move-on | lha cewek? udah ngasi segala, sayangnya ngasinya ke pelaku maksiat, begitu deh..

Baca selengkapnya »

5 Cara Menghukum Anak yang Tidak Dibenarkan Dalam Islam

5 Cara Menghukum Anak yang Tidak Dibenarkan Dalam Islam



  1. Memukul wajah Rasulullah S.A.W melarang memukul muka berdasarkan sabda Baginda yang bermaksud, “Jika salah seorang dari kamu memukul, maka hendaknya dia menjauhi (memukul) wajah.” 
  2. Menampakkan kemarahan yang sangat Ini juga dilarang kerana bertentangan dengan amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah orang yang kuat itu diukur dengan kuatnya dia berlawan, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah."
  3. Memukul di dalam keadaan sangat marah Dari Abu Mas’ud al-Badri, dia berkata, “(Suatu hari) aku memukul budakku (yang masih kecil) dengan cemeti, maka aku mendengar suara (teguran) dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Akan tetapi, aku tidak mengenali suara tersebut kerena kemarahan (yang sangat). Ketika pemilik suara itu mendekat dariku, maka ternyata dia adalah Rasulullah S.A.W dan Baginda berkata, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Maka aku pun melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyeksa) kamu daripada apa yang kami seksakan terhadap budak ini,’ maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan memukul budak selamanya setelah (hari) ini."
  4. Bersikap terlalu keras dan kasar Sikap ini jelas bertentangan dengan sifat lemah lembut yang diajar oleh Islam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang terhalang dari sifat lemah lembut, maka dia akan terhalang dari mendapat kebaikan.”
  5. Memukul dengan benda keras sehingga berbekas Ini juga dilarang oleh Rasulullah S.A.W. Sebaik-baiknya gunakan rotan yang tidak boleh mendatangkan kecederaan dan berbekas pada kulit. Menghukum dengan rotan dibolehkan dengan tujuan untuk memberikan peringatan kepada anak.

(HEBOH) Pengakuan salah satu produsen Susu Formula


(HEBOH) Pengakuan salah satu produsen Susu Formula



Air Susu Ibu (ASI) vs Susu Formula (Sufor)

Jadi inget, dulu pernah bikin riset tentang susu formula merek X, buatan Eropa di pertengahan tahun 2008. Interviewnya sama dokter-dokter anak di Indonesia, pas banget ketika saya sedang hamil.

Ketika saya ikut serta dalam riset ini, saya belum kebayang sama sekali bakal kasih ASI sampai 22bulan, dan kasih homemade food ke Alika; anak saya, dan gak memberikan susu formula sama sekali. Boro-boro kebayang pumping ASI dan bawa-bawa pompa dan segambreng peralatan perang ASI lainnya, wong dulu tuh mikirnya pasti soal “merek susu apa ya yg bagus?” atau nanya ke orang-orang: “Merek susu apa ya yang bagus?”.

Sampai suatu hari Saya dapat kesempatan untuk bantu di project riset tentang susu formula merek ini. Fyi: ini adalah salah satu merek susu buatan Eropa yang terkenal di Indonesia.

Dan sebelum fieldwork dimulai, saya seperti biasa melakukan brainstorming meeting bersama orang brand (Orang Swiss) dan orang R&D yg menjadi salah satu peracik formula susunya (Dokter asal New Zealand).

Baca selengkapnya »

Agama (Islam) itu Akhlak yang Baik

Agama (Islam) itu Akhlak yang Baik


Rasulullah bersabda, "agama (Islam) itu akhlak yang baik" (HR Ahmad)

dan akhlak paling mudah diketahui lewat lisan
bila lisan sudah lacur dan kotor, begitu pula akhlaknya
dan tiada sesuatu yang bisa diambil dari orang yang buruk akhlaknya

perhatikan, komentar-komentar yang keluar dari lisan atau tulisan anda, pastikan yang baik-baik karena agama ini adalah akhlak yang baik

tahan diri untuk berkomentar buruk bila melihat komentar buruk, jangan terjebak menjadi orang yang buruk akhlaknya hanya karena melihat contoh buruk

bila melihat komentar buruk di manapun, termasuk di sosial media, cukuplah dalam hati kita berujar, "oh, begitulah isi kepalanya, itulah kadar agamanya" 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama

Diberdayakan oleh Blogger.