Arloji yang Hilang

Arloji yang Hilang


Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu.

Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan.

Baca selengkapnya »

Kentang dalam Plastik

Guru taman kanak-kanak


Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak (TK) mengadakan "permainan".

Ibu Guru menyuruh tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa, tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

Baca selengkapnya »

Tradisi Mengotori Udara


Tradisi Mengotori Udara


TRADISI MENGOTORI UDARA YANG DI LAKUKAN TERUS DARI GENERASI KE GENERASI TANPA ADA YANG BERUSAHA MEMUTUS MATA RANTAINYA
(Silahkan di share jika artikel ini di rasa bermanfaat bagi kita semua)

Suatu ketika kami sedang berjalan-jalan pagi, dengan maksud olah raga sekaligus mencari udara segar.

Rute yang kami pilih mulai dari menyusuri komplek perumahan hingga ke perkampungan di sekitarnya. 

Baca selengkapnya »

Pesan Untuk Pencari Rezeki


Pesan Untuk Pencari Rezeki


Perhatikan bagi yang mencari rezeki | Nabi saw bersabda, "seseorang itu terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya" (HR Ahmad)

makna "terhalang" ini bisa berarti terhalang dari rezeki secara harfiah | bisa jadi juga bermakna terhalang dari nikmatnya rezeki yang ada

misalnya, Allah menunda harta yang seharusnya miliknya, ini maksud "terhalang" | atau Allah menjadikan hartanya tidak nikmat, ini juga

sering pelaku maksiat merasa bisa mempercepat atau memperbanyak rezeki dengan dosa | padahal justru sejatinya dia sedang menghalangi rezeki

mau segera nikah, malah pacaran, padahal itu maksiat | malah jauh dari rezeki berkeluarga, kalaupun menikah, nikmatnya dicabut Allah

mau dapat harta banyak, lalu menyuap dan korupsi, malah maksiat | jadilah ia jauh dari rezeki, bilapun dapat, barakahnya dicabut

bila semua yang bisa kita nikmati dari Allah itulah rezeki | maka jaga diri kita dari maksiat, dan selalulah bertaubat

maka aku (Nabi Nuh) katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai, Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?"
(QS Nuh 10-13)

Mengapa Bangsa Asia Kalah Kreatif???


Mengapa Bangsa Asia Kalah Kreatif???


Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi "best seller". (www.idearesort.com/trainers/T01.p) mengemukakan beberapa hal ttg bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:

1. Bagi kebanyakan org Asia, dlm budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.

Baca selengkapnya »

Pengaruh Istri Terhadap Pekerjaan Suami

Pengaruh Istri Terhadap Pekerjaan Suami


Dari Kholid bin Yazid, ia berkata : Hasan al- Bashri ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ berkata:
"Aku datang kepada seorang pedagang kain di Makkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan, "Tidaklah layak beli dari orang semacam itu",

lalu aku pun beli baju dari pedagang yang lain.
Dua tahun setelah itu aku (pergi untuk menunaikan ibadah) haji, dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah. lalu aku bertanya kepadanya "Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?" Ia menjawab : "Ya benar!" Aku bertanya lagi : "Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang?! Aku tidak lagi
melihatmu memuji-muji dagangan mu dan (mengumbar) sumpah!"

Lantas ia pun bercerita : "Dahulu aku mempunyai istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rejeki, maka ia meremehkannya, dan jika aku datang kepadanya dengan rejeki yang banyak maka ia (akan) menganggapnya sedikit. Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Yang jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata :

'Wahai suamiku, bertakwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku melainkan dengan yang thoyyib (halal), dan jika engkau datang kepadaku dengan sedikit rejeki, aku akan menganggapnya banyak. Dan jika engkau tidak dapat apa-apa, (maka) aku akan membantumu memintal (kain).'"

* Al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (V/252) karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan bin Muhammad ad-Dainuri al-Qodhi al-Maliki *

Semoga dari kisah ini dapat diambil pelajaran bagi kita dalam mengarungi hidup berumahtangga (*)
Aamiin...

Elly Risman: “Saya Ibu Biasa, Kok”



Bisa dibilang, saya cukup look up to Ibu Elly Risman perkara pola pengasuhan. Sebelum menikah sudah mengenal beliau, lalu setelah bergabung di Mommies Daily, saya cukup sering ikut seminar di mana beliau menjadi pembicara. Hal ini sedikit banyak memengaruhi pola pengasuhan saya terhadap Langit. Mulai dari Tekhnik Komunikasi Dengan Anak, Mendidik Anak Dengan Cinta dan Logika, hingga Disiplin Dengan Kasih Sayang.

Pada sesi 2 seminar Tetralogy Supermoms, saya berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol sedikit dengan beliau perkara perannya menjadi seorang ibu.

Kalau mengikuti seminarnya, pasti banyak ibu yang merasa banyak melakukan kesalahan dalam mengasuh anak. Kalimat yang dilontarkan Ibu Elly pun kerap kali membuat saya ingin menambahkan #jleb dalam setiap tweet yang saya kirimkan. Pengumuman, ternyata Ibu Elly sendiri kerap merasa gagal mengasuh anaknya. Wow!

“Saya ibu biasa, kok”, katanya. Yuk, simak obrolan di bawah ini!

Waktu pertama kali jadi ibu, bagaimana perasaannya, sih?

Sangat bahagia karena saya setiap hamil itu efeknya pingsan. Karena saya mengalami gangguan jantung bawaan. Jadi jantung itu (selama hamil), kan, bekerja 40 kali dari biasa, jadi jantung itu selalu lebih berat bebannya saat hamil, makanya saya pingsan melulu.

Makanya pas melahirkan, normal dan nggak pake (operasi) sesar, itu merupakan rahmat Allah yang amat luar biasa. Bayinya sehat, sayanya sehat, itu … aduh, nggak ada kata-kata untuk menjelaskannya.

Perjalanan menjadi ibu, menurut Ibu Elly seperti apa, sih?

Itu pengorbanan yang habis-habisan, ya. Tenaga, waktu, biaya, terutama pikiran, ya, perasaan, luar biasa. Tapi itu semua harus dibuat transedental ya, karena itu semua adalah anugerah Allah dan dan amanah. Dan itu akan ditanyain pertangungjawabannya jadi hanya karena ketakutan pada Allah itulah, jadi nggak bisa capek, nggak bisa marah atau berhenti, nggak bisa mengeluh. Mengeluh juga pada siapa, kalo mengeluh, kenapa juga lo punya anak?

Ouch, #jleb banget nih!

Menurut Ibu Elly, tahapan apa yang paling berat menjadi orangtua?

Sebetulnya di dalam psikologi, setiap tahapan ada tantangan perkembangan. Kalau di dalam perut, kita stres, anaknya akan sedih. Usia 5 tahun pertama juga menentukan, terus nanti kalau dia tumbuh agak besar sedikit, kita akan menghadapi anak yang lain lagi. Setiap tahapan ada tantangan yang lebih berat. Kalau kita beres sampai 8 tahun pertama, pra remajanya malah gampang.

Jadi 8 tahun pertama itu yang mesti kencang …

Sejak sebelum menikah sudah di dunia psikologi, setelah menikah dan punya anak, teori sama praktiknya gimana, Bu? Ada perbedaan?

Jauh banget!

Teori di mana tempatnya, kelakuan kita di mana. Kita tahu padahal, kalau lagi pikir-pikir … ya, ini anak baru setahun otaknya belum bersambungan. Tapi, ya, sudah sempat marah.

Saya ibu biasa, kok. Ya marah, anak pertama malah sempat saya pukul, yang berikutnya tidak. Pas sudah besar, mereka suka duduk bertiga, ngobrol “Lo pernah dipukul Mama nggak?” ketika yang lainnya bilang nggak, si sulung  bilang, “Kok aku pernah, ya”. Jadi, saya justru, banyak sekalilah, salahnya. Tapi Alhamdulillah, comes out not that bad…

Jadi saya sekarang belajar dari kesalahan-kesalahan itu, saya menuntut ilmu, saya membuat modul, saya mengajarkan teman-teman saya supaya mereka bisa menyampaikan ini lebih luas, punya siaran radio, televisi, majalah, selama 6 tahun punya kolom konsultasi di Republika. Ya itu semua saya ingin menyebarkan yang kurang-kurang dari saya dan yang saya kuasai secara teoritis harusnya apa dilakukan supaya Indonesia bisa menghasilkan generasi yang lebih baik.

Kalau perbedaan nyata ibu-ibu di era Ibu Elly dengan sekarang apa, sih?

Ibu sekarang, spoiled! Terlalu, apa anak mau, dibeliin! Anak saya harus berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Pertama sekali yang membedakan berdasarkan riset adalah, orangtua sekarang tidak merumuskan tujuan pengasuhan. Saya merumuskan tujuan pengasuhan dengan suami saya. Dan atas dasar tujuan pengasuhan tersebut kami membangun kesepakatan-kesepakatan dan ini ditandatangan hitam diatas putih.

Poinnya adalah tujuan pertama, anak kita adalah hamba Allah yang takwa. Berarti kita harus mengikut pedoman-pedoman yang ada dalam kitab suci, ya, kalau begitu sumber rejeki harus halal dan thoyib. Jadi kamu (ke suami) harus memberikan makanan, beli susu dan uang sekolah dari gaji pokokku, ya. Kamu tidak ambil gaji  hasil rapat, tunjangan ini itu, ya. Atau nggak, ya, duit kamu, karena kamu swasta. Jadi kalau nggak punya duit, kita bersitegang.

Oleh karena itu anak kita semua harus mengajukan planning, setelah dia agak besar. dia mau apa, mau apa. Jadi tidak semuanya bisa didapatkan dengan gampang.

Terus, semua makanan harus halal. Jadi waktu kami ada di Honolulu, dan kami nggak dapat kiriman daging halal dari mainland, maka suami saya pernah bersama teman-teman (muslim) lainnya, pergi ke pojokan-pojokan Honolulu dan menyembelih ayam. Karena anaknya harus makan makanan halal. Sampai sekarang, suami saya tidak memakan daging sembelihan, takut disembelihnya salah.  Jadi anak kami selama di luar negeri, kami hanya makan daging yang bisa dibeli di masjid. Kami nggak beli ayam di supermarket.  Itu salah satu contohnya.

Walaupun begitu, anak saya pernah ditanya sama wartawan, pernah nggak makan daging yang bukan untuk muslim, dia jawab pernah. Ya, namanya anak-anak, dia makan waktu temannya orang Thailand buka restoran. Hahaha … dan ini dimuat di Republika.

Jadi ibunya ngajarin begini, anaknya begitu. Ya, namanya anak-anak, kalau patuh terus malah nggak manusiawi.

Ibu Elly pernah merasa gagal nggak, menjadi seorang ibu?

Pernah!

Ketika anak saya melawan saya besar-besaran, ketika apa harapan saya nggak terwujud, saya bilang, “I think I failed being a mom,” anak saya menjawab, jangan begitu dong mama, semua orang juga punya salah. Saya gagal kali jadi ibu, anak saya bilang, “No-no-no, keberhasilan tidak diukur karena kita nakal sedikit.”

Saya sering merasa terhentak, “Aduh, kenapa, ya, saya begini?” Saya lihat-lihat lagi, saya masih ada kecenderungan memanjakan juga.

Namanya ibu, terus di luar negeri, lihat semua anak pake gelang, ya, kita pengen anak kita pake gelang. Gitu…

Kalau ke cucu, treat-nya sama nggak dengan anak?

Nggak! Karena itu hak prerogatif orangtuanya. Kalau saya, sudah bicarakan dulu dari jauh-jauh hari sama anak saya, raise your child your own way because it is in different generation.

Jadi anak saya mau ngomong apa (ke anaknya), “Mama please go away, saya lagi ngomong sama anak saya”.

Karena kita, kan, suka kasihan sama cucu, kok, sepertinya anak saya kelewat kencang. Tapi terus anak saya bilang, “You said in my way.”

Tujuan ibu apa, sih, sampai saat ini masih keliling menyebarkan ilmu parenting?

Saya diajarkan kebangsaan tinggi sekali oleh ayah saya. Saya diingatkan berkali-kali sama ayah saya, ini kalimat paling penting , “Bergeraklah di bidang pendidikan, sebab hanya pendidikan yang memanusiakan manusia”. Kalau nggak, anak jadi kaya binatang. Kelakuannya seperti binatang, kita dekat sekali sama binatang, kalau pre frontal cortex kita rusak . Itu yang saya pahami.

Sampai kapan Bu, aktif di bidang ini?

Selama saya masih bisa bergerak, berpikir, saya mau terus. Karena ini perjuangan yang tidak ada habis-habisnya. Orang besar, terus melahirkan lagi, terus besar lalu melahirkan lagi.

Never ending-lah, sampai saya dipanggil Allah .…

Nah, seorang ibu pun, bahkan seorang Elly Risman, juga manusia biasa. Saya mengambil kesimpulan bahwa, wajar sekali kalau kita sering emosi, kecewa atau marah sama anak. Yang penting, bagaimana usaha kita untuk lebih baik, bukan hanya menjadi orangtua yang baik bagi anak kita saja, tapi juga bagi diri kita sendiri.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama

Diberdayakan oleh Blogger.