Elly Risman: “Saya Ibu Biasa, Kok”



Bisa dibilang, saya cukup look up to Ibu Elly Risman perkara pola pengasuhan. Sebelum menikah sudah mengenal beliau, lalu setelah bergabung di Mommies Daily, saya cukup sering ikut seminar di mana beliau menjadi pembicara. Hal ini sedikit banyak memengaruhi pola pengasuhan saya terhadap Langit. Mulai dari Tekhnik Komunikasi Dengan Anak, Mendidik Anak Dengan Cinta dan Logika, hingga Disiplin Dengan Kasih Sayang.

Pada sesi 2 seminar Tetralogy Supermoms, saya berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol sedikit dengan beliau perkara perannya menjadi seorang ibu.

Kalau mengikuti seminarnya, pasti banyak ibu yang merasa banyak melakukan kesalahan dalam mengasuh anak. Kalimat yang dilontarkan Ibu Elly pun kerap kali membuat saya ingin menambahkan #jleb dalam setiap tweet yang saya kirimkan. Pengumuman, ternyata Ibu Elly sendiri kerap merasa gagal mengasuh anaknya. Wow!

“Saya ibu biasa, kok”, katanya. Yuk, simak obrolan di bawah ini!

Waktu pertama kali jadi ibu, bagaimana perasaannya, sih?

Sangat bahagia karena saya setiap hamil itu efeknya pingsan. Karena saya mengalami gangguan jantung bawaan. Jadi jantung itu (selama hamil), kan, bekerja 40 kali dari biasa, jadi jantung itu selalu lebih berat bebannya saat hamil, makanya saya pingsan melulu.

Makanya pas melahirkan, normal dan nggak pake (operasi) sesar, itu merupakan rahmat Allah yang amat luar biasa. Bayinya sehat, sayanya sehat, itu … aduh, nggak ada kata-kata untuk menjelaskannya.

Perjalanan menjadi ibu, menurut Ibu Elly seperti apa, sih?

Itu pengorbanan yang habis-habisan, ya. Tenaga, waktu, biaya, terutama pikiran, ya, perasaan, luar biasa. Tapi itu semua harus dibuat transedental ya, karena itu semua adalah anugerah Allah dan dan amanah. Dan itu akan ditanyain pertangungjawabannya jadi hanya karena ketakutan pada Allah itulah, jadi nggak bisa capek, nggak bisa marah atau berhenti, nggak bisa mengeluh. Mengeluh juga pada siapa, kalo mengeluh, kenapa juga lo punya anak?

Ouch, #jleb banget nih!

Menurut Ibu Elly, tahapan apa yang paling berat menjadi orangtua?

Sebetulnya di dalam psikologi, setiap tahapan ada tantangan perkembangan. Kalau di dalam perut, kita stres, anaknya akan sedih. Usia 5 tahun pertama juga menentukan, terus nanti kalau dia tumbuh agak besar sedikit, kita akan menghadapi anak yang lain lagi. Setiap tahapan ada tantangan yang lebih berat. Kalau kita beres sampai 8 tahun pertama, pra remajanya malah gampang.

Jadi 8 tahun pertama itu yang mesti kencang …

Sejak sebelum menikah sudah di dunia psikologi, setelah menikah dan punya anak, teori sama praktiknya gimana, Bu? Ada perbedaan?

Jauh banget!

Teori di mana tempatnya, kelakuan kita di mana. Kita tahu padahal, kalau lagi pikir-pikir … ya, ini anak baru setahun otaknya belum bersambungan. Tapi, ya, sudah sempat marah.

Saya ibu biasa, kok. Ya marah, anak pertama malah sempat saya pukul, yang berikutnya tidak. Pas sudah besar, mereka suka duduk bertiga, ngobrol “Lo pernah dipukul Mama nggak?” ketika yang lainnya bilang nggak, si sulung  bilang, “Kok aku pernah, ya”. Jadi, saya justru, banyak sekalilah, salahnya. Tapi Alhamdulillah, comes out not that bad…

Jadi saya sekarang belajar dari kesalahan-kesalahan itu, saya menuntut ilmu, saya membuat modul, saya mengajarkan teman-teman saya supaya mereka bisa menyampaikan ini lebih luas, punya siaran radio, televisi, majalah, selama 6 tahun punya kolom konsultasi di Republika. Ya itu semua saya ingin menyebarkan yang kurang-kurang dari saya dan yang saya kuasai secara teoritis harusnya apa dilakukan supaya Indonesia bisa menghasilkan generasi yang lebih baik.

Kalau perbedaan nyata ibu-ibu di era Ibu Elly dengan sekarang apa, sih?

Ibu sekarang, spoiled! Terlalu, apa anak mau, dibeliin! Anak saya harus berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Pertama sekali yang membedakan berdasarkan riset adalah, orangtua sekarang tidak merumuskan tujuan pengasuhan. Saya merumuskan tujuan pengasuhan dengan suami saya. Dan atas dasar tujuan pengasuhan tersebut kami membangun kesepakatan-kesepakatan dan ini ditandatangan hitam diatas putih.

Poinnya adalah tujuan pertama, anak kita adalah hamba Allah yang takwa. Berarti kita harus mengikut pedoman-pedoman yang ada dalam kitab suci, ya, kalau begitu sumber rejeki harus halal dan thoyib. Jadi kamu (ke suami) harus memberikan makanan, beli susu dan uang sekolah dari gaji pokokku, ya. Kamu tidak ambil gaji  hasil rapat, tunjangan ini itu, ya. Atau nggak, ya, duit kamu, karena kamu swasta. Jadi kalau nggak punya duit, kita bersitegang.

Oleh karena itu anak kita semua harus mengajukan planning, setelah dia agak besar. dia mau apa, mau apa. Jadi tidak semuanya bisa didapatkan dengan gampang.

Terus, semua makanan harus halal. Jadi waktu kami ada di Honolulu, dan kami nggak dapat kiriman daging halal dari mainland, maka suami saya pernah bersama teman-teman (muslim) lainnya, pergi ke pojokan-pojokan Honolulu dan menyembelih ayam. Karena anaknya harus makan makanan halal. Sampai sekarang, suami saya tidak memakan daging sembelihan, takut disembelihnya salah.  Jadi anak kami selama di luar negeri, kami hanya makan daging yang bisa dibeli di masjid. Kami nggak beli ayam di supermarket.  Itu salah satu contohnya.

Walaupun begitu, anak saya pernah ditanya sama wartawan, pernah nggak makan daging yang bukan untuk muslim, dia jawab pernah. Ya, namanya anak-anak, dia makan waktu temannya orang Thailand buka restoran. Hahaha … dan ini dimuat di Republika.

Jadi ibunya ngajarin begini, anaknya begitu. Ya, namanya anak-anak, kalau patuh terus malah nggak manusiawi.

Ibu Elly pernah merasa gagal nggak, menjadi seorang ibu?

Pernah!

Ketika anak saya melawan saya besar-besaran, ketika apa harapan saya nggak terwujud, saya bilang, “I think I failed being a mom,” anak saya menjawab, jangan begitu dong mama, semua orang juga punya salah. Saya gagal kali jadi ibu, anak saya bilang, “No-no-no, keberhasilan tidak diukur karena kita nakal sedikit.”

Saya sering merasa terhentak, “Aduh, kenapa, ya, saya begini?” Saya lihat-lihat lagi, saya masih ada kecenderungan memanjakan juga.

Namanya ibu, terus di luar negeri, lihat semua anak pake gelang, ya, kita pengen anak kita pake gelang. Gitu…

Kalau ke cucu, treat-nya sama nggak dengan anak?

Nggak! Karena itu hak prerogatif orangtuanya. Kalau saya, sudah bicarakan dulu dari jauh-jauh hari sama anak saya, raise your child your own way because it is in different generation.

Jadi anak saya mau ngomong apa (ke anaknya), “Mama please go away, saya lagi ngomong sama anak saya”.

Karena kita, kan, suka kasihan sama cucu, kok, sepertinya anak saya kelewat kencang. Tapi terus anak saya bilang, “You said in my way.”

Tujuan ibu apa, sih, sampai saat ini masih keliling menyebarkan ilmu parenting?

Saya diajarkan kebangsaan tinggi sekali oleh ayah saya. Saya diingatkan berkali-kali sama ayah saya, ini kalimat paling penting , “Bergeraklah di bidang pendidikan, sebab hanya pendidikan yang memanusiakan manusia”. Kalau nggak, anak jadi kaya binatang. Kelakuannya seperti binatang, kita dekat sekali sama binatang, kalau pre frontal cortex kita rusak . Itu yang saya pahami.

Sampai kapan Bu, aktif di bidang ini?

Selama saya masih bisa bergerak, berpikir, saya mau terus. Karena ini perjuangan yang tidak ada habis-habisnya. Orang besar, terus melahirkan lagi, terus besar lalu melahirkan lagi.

Never ending-lah, sampai saya dipanggil Allah .…

Nah, seorang ibu pun, bahkan seorang Elly Risman, juga manusia biasa. Saya mengambil kesimpulan bahwa, wajar sekali kalau kita sering emosi, kecewa atau marah sama anak. Yang penting, bagaimana usaha kita untuk lebih baik, bukan hanya menjadi orangtua yang baik bagi anak kita saja, tapi juga bagi diri kita sendiri.

Posting Lebih Baru Posting Lama

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.