Pengaruh Istri Terhadap Pekerjaan Suami

Pengaruh Istri Terhadap Pekerjaan Suami


Dari Kholid bin Yazid, ia berkata : Hasan al- Bashri ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ berkata:
"Aku datang kepada seorang pedagang kain di Makkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan, "Tidaklah layak beli dari orang semacam itu",

lalu aku pun beli baju dari pedagang yang lain.
Dua tahun setelah itu aku (pergi untuk menunaikan ibadah) haji, dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah. lalu aku bertanya kepadanya "Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?" Ia menjawab : "Ya benar!" Aku bertanya lagi : "Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang?! Aku tidak lagi
melihatmu memuji-muji dagangan mu dan (mengumbar) sumpah!"

Lantas ia pun bercerita : "Dahulu aku mempunyai istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rejeki, maka ia meremehkannya, dan jika aku datang kepadanya dengan rejeki yang banyak maka ia (akan) menganggapnya sedikit. Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Yang jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata :

'Wahai suamiku, bertakwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku melainkan dengan yang thoyyib (halal), dan jika engkau datang kepadaku dengan sedikit rejeki, aku akan menganggapnya banyak. Dan jika engkau tidak dapat apa-apa, (maka) aku akan membantumu memintal (kain).'"

* Al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (V/252) karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan bin Muhammad ad-Dainuri al-Qodhi al-Maliki *

Semoga dari kisah ini dapat diambil pelajaran bagi kita dalam mengarungi hidup berumahtangga (*)
Aamiin...

Elly Risman: “Saya Ibu Biasa, Kok”



Bisa dibilang, saya cukup look up to Ibu Elly Risman perkara pola pengasuhan. Sebelum menikah sudah mengenal beliau, lalu setelah bergabung di Mommies Daily, saya cukup sering ikut seminar di mana beliau menjadi pembicara. Hal ini sedikit banyak memengaruhi pola pengasuhan saya terhadap Langit. Mulai dari Tekhnik Komunikasi Dengan Anak, Mendidik Anak Dengan Cinta dan Logika, hingga Disiplin Dengan Kasih Sayang.

Pada sesi 2 seminar Tetralogy Supermoms, saya berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol sedikit dengan beliau perkara perannya menjadi seorang ibu.

Kalau mengikuti seminarnya, pasti banyak ibu yang merasa banyak melakukan kesalahan dalam mengasuh anak. Kalimat yang dilontarkan Ibu Elly pun kerap kali membuat saya ingin menambahkan #jleb dalam setiap tweet yang saya kirimkan. Pengumuman, ternyata Ibu Elly sendiri kerap merasa gagal mengasuh anaknya. Wow!

“Saya ibu biasa, kok”, katanya. Yuk, simak obrolan di bawah ini!

Waktu pertama kali jadi ibu, bagaimana perasaannya, sih?

Sangat bahagia karena saya setiap hamil itu efeknya pingsan. Karena saya mengalami gangguan jantung bawaan. Jadi jantung itu (selama hamil), kan, bekerja 40 kali dari biasa, jadi jantung itu selalu lebih berat bebannya saat hamil, makanya saya pingsan melulu.

Makanya pas melahirkan, normal dan nggak pake (operasi) sesar, itu merupakan rahmat Allah yang amat luar biasa. Bayinya sehat, sayanya sehat, itu … aduh, nggak ada kata-kata untuk menjelaskannya.

Perjalanan menjadi ibu, menurut Ibu Elly seperti apa, sih?

Itu pengorbanan yang habis-habisan, ya. Tenaga, waktu, biaya, terutama pikiran, ya, perasaan, luar biasa. Tapi itu semua harus dibuat transedental ya, karena itu semua adalah anugerah Allah dan dan amanah. Dan itu akan ditanyain pertangungjawabannya jadi hanya karena ketakutan pada Allah itulah, jadi nggak bisa capek, nggak bisa marah atau berhenti, nggak bisa mengeluh. Mengeluh juga pada siapa, kalo mengeluh, kenapa juga lo punya anak?

Ouch, #jleb banget nih!

Menurut Ibu Elly, tahapan apa yang paling berat menjadi orangtua?

Sebetulnya di dalam psikologi, setiap tahapan ada tantangan perkembangan. Kalau di dalam perut, kita stres, anaknya akan sedih. Usia 5 tahun pertama juga menentukan, terus nanti kalau dia tumbuh agak besar sedikit, kita akan menghadapi anak yang lain lagi. Setiap tahapan ada tantangan yang lebih berat. Kalau kita beres sampai 8 tahun pertama, pra remajanya malah gampang.

Jadi 8 tahun pertama itu yang mesti kencang …

Sejak sebelum menikah sudah di dunia psikologi, setelah menikah dan punya anak, teori sama praktiknya gimana, Bu? Ada perbedaan?

Jauh banget!

Teori di mana tempatnya, kelakuan kita di mana. Kita tahu padahal, kalau lagi pikir-pikir … ya, ini anak baru setahun otaknya belum bersambungan. Tapi, ya, sudah sempat marah.

Saya ibu biasa, kok. Ya marah, anak pertama malah sempat saya pukul, yang berikutnya tidak. Pas sudah besar, mereka suka duduk bertiga, ngobrol “Lo pernah dipukul Mama nggak?” ketika yang lainnya bilang nggak, si sulung  bilang, “Kok aku pernah, ya”. Jadi, saya justru, banyak sekalilah, salahnya. Tapi Alhamdulillah, comes out not that bad…

Jadi saya sekarang belajar dari kesalahan-kesalahan itu, saya menuntut ilmu, saya membuat modul, saya mengajarkan teman-teman saya supaya mereka bisa menyampaikan ini lebih luas, punya siaran radio, televisi, majalah, selama 6 tahun punya kolom konsultasi di Republika. Ya itu semua saya ingin menyebarkan yang kurang-kurang dari saya dan yang saya kuasai secara teoritis harusnya apa dilakukan supaya Indonesia bisa menghasilkan generasi yang lebih baik.

Kalau perbedaan nyata ibu-ibu di era Ibu Elly dengan sekarang apa, sih?

Ibu sekarang, spoiled! Terlalu, apa anak mau, dibeliin! Anak saya harus berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Pertama sekali yang membedakan berdasarkan riset adalah, orangtua sekarang tidak merumuskan tujuan pengasuhan. Saya merumuskan tujuan pengasuhan dengan suami saya. Dan atas dasar tujuan pengasuhan tersebut kami membangun kesepakatan-kesepakatan dan ini ditandatangan hitam diatas putih.

Poinnya adalah tujuan pertama, anak kita adalah hamba Allah yang takwa. Berarti kita harus mengikut pedoman-pedoman yang ada dalam kitab suci, ya, kalau begitu sumber rejeki harus halal dan thoyib. Jadi kamu (ke suami) harus memberikan makanan, beli susu dan uang sekolah dari gaji pokokku, ya. Kamu tidak ambil gaji  hasil rapat, tunjangan ini itu, ya. Atau nggak, ya, duit kamu, karena kamu swasta. Jadi kalau nggak punya duit, kita bersitegang.

Oleh karena itu anak kita semua harus mengajukan planning, setelah dia agak besar. dia mau apa, mau apa. Jadi tidak semuanya bisa didapatkan dengan gampang.

Terus, semua makanan harus halal. Jadi waktu kami ada di Honolulu, dan kami nggak dapat kiriman daging halal dari mainland, maka suami saya pernah bersama teman-teman (muslim) lainnya, pergi ke pojokan-pojokan Honolulu dan menyembelih ayam. Karena anaknya harus makan makanan halal. Sampai sekarang, suami saya tidak memakan daging sembelihan, takut disembelihnya salah.  Jadi anak kami selama di luar negeri, kami hanya makan daging yang bisa dibeli di masjid. Kami nggak beli ayam di supermarket.  Itu salah satu contohnya.

Walaupun begitu, anak saya pernah ditanya sama wartawan, pernah nggak makan daging yang bukan untuk muslim, dia jawab pernah. Ya, namanya anak-anak, dia makan waktu temannya orang Thailand buka restoran. Hahaha … dan ini dimuat di Republika.

Jadi ibunya ngajarin begini, anaknya begitu. Ya, namanya anak-anak, kalau patuh terus malah nggak manusiawi.

Ibu Elly pernah merasa gagal nggak, menjadi seorang ibu?

Pernah!

Ketika anak saya melawan saya besar-besaran, ketika apa harapan saya nggak terwujud, saya bilang, “I think I failed being a mom,” anak saya menjawab, jangan begitu dong mama, semua orang juga punya salah. Saya gagal kali jadi ibu, anak saya bilang, “No-no-no, keberhasilan tidak diukur karena kita nakal sedikit.”

Saya sering merasa terhentak, “Aduh, kenapa, ya, saya begini?” Saya lihat-lihat lagi, saya masih ada kecenderungan memanjakan juga.

Namanya ibu, terus di luar negeri, lihat semua anak pake gelang, ya, kita pengen anak kita pake gelang. Gitu…

Kalau ke cucu, treat-nya sama nggak dengan anak?

Nggak! Karena itu hak prerogatif orangtuanya. Kalau saya, sudah bicarakan dulu dari jauh-jauh hari sama anak saya, raise your child your own way because it is in different generation.

Jadi anak saya mau ngomong apa (ke anaknya), “Mama please go away, saya lagi ngomong sama anak saya”.

Karena kita, kan, suka kasihan sama cucu, kok, sepertinya anak saya kelewat kencang. Tapi terus anak saya bilang, “You said in my way.”

Tujuan ibu apa, sih, sampai saat ini masih keliling menyebarkan ilmu parenting?

Saya diajarkan kebangsaan tinggi sekali oleh ayah saya. Saya diingatkan berkali-kali sama ayah saya, ini kalimat paling penting , “Bergeraklah di bidang pendidikan, sebab hanya pendidikan yang memanusiakan manusia”. Kalau nggak, anak jadi kaya binatang. Kelakuannya seperti binatang, kita dekat sekali sama binatang, kalau pre frontal cortex kita rusak . Itu yang saya pahami.

Sampai kapan Bu, aktif di bidang ini?

Selama saya masih bisa bergerak, berpikir, saya mau terus. Karena ini perjuangan yang tidak ada habis-habisnya. Orang besar, terus melahirkan lagi, terus besar lalu melahirkan lagi.

Never ending-lah, sampai saya dipanggil Allah .…

Nah, seorang ibu pun, bahkan seorang Elly Risman, juga manusia biasa. Saya mengambil kesimpulan bahwa, wajar sekali kalau kita sering emosi, kecewa atau marah sama anak. Yang penting, bagaimana usaha kita untuk lebih baik, bukan hanya menjadi orangtua yang baik bagi anak kita saja, tapi juga bagi diri kita sendiri.

Teknik Komunikasi dengan Anak


Teknik Komunikasi dengan Anak

Sebelum menikah, saya pernah bekerjasama dengan ibu Elly Risman sebagai Board of Consultant untuk program televisi anak-anak pada channel tv kami. Saat pertama bertemu beliau, saya yang sedang hamil kerap dibuat berkaca-kaca mendengar omongan beliau tentang anak-anak (ehm, selain hormon, emang juga cengeng :D

Setelah melahirkan dan Langit mulai beranjak besar, banyak sekali omongan-omongan ibu Elly yang saya ingat. Contoh kecil, “Sudahkah kamu memeluk anakmu hari ini?” atau, “Namakan hal yang sedang dirasakan anak, seperti senang, sedih, kesal, dan seterusnya”. Dan Alhamdulillah,saya praktikkan hingga saat ini.

Sabtu 26 Februari lalu, supermoms-id menyelenggarakan sesi 1 dari rangkaian acara Seminar pengasuhan Anak bersama ibu Elly Risman. Materinya saat itu adalah Komunikasi Pengasuhan Anak. Mungkin banyak yang mikir ya, “ah masa masalah komunikasi dibikin seminar sendiri. Masih kecil gitu loh, anak gue..” atau “masa ngomong aja mesti diatur sih?”.  Tapi begitu dijembreng sama ibu Elly masalah komunikasi dengan anak ini, langsung banyak mommies (dan para ayah) peserta seminar yang ‘tertampar’. Apa saja sih, ini kita catat poin-poinnya:

Baca selengkapnya »

Mendidik Anak Di Era Digital


Mendidik Anak Di Era Digital

Tanggal 1 September 2012 lalu, kami datang ke Seminar Tetralogy-nya Supermoms yang bertemakan Tantangan Mendidik Anak di Era Digital. Ruangan di Jakarta Design Center pagi itu sudah ramai oleh sekitar 250 orangtua hebat. Kenapa saya bilang orangtua hebat? Bayangkan, Sabtu pagi, datang ke JDC untuk mendengarkan seminar. Langkah yang sangat tepat dan patut dihargai bagi para orangtua, karena orangtua, kan, nggak ada sekolahnya :)

Pembicara, Ibu Elly Risman, membuka seminar dengan berbagai data dan fakta mengejutkan seputar dunia digital dan anak-anak. Misalnya, huruf dan symbol beraneka rupa yang jika dibaca ternyata merupakan sebuah kalimat menyatakan kepuasan pasca berhubungan seksual (dan ini dikirimkan oleh anak SMP) atau hasil survei bahwa 85% dari responden yang terdiri dari anak usia kelas 4,5,6 SD sudah kecanduan konten pornografi.

Segitu bahayakah pornografi bagi anak-anak?

Pornografi menyerang otak bagian Pre Fontral Cortex (PFC). Bagian otak yang ini adalah tempat moral dan nilai yang bertanggung jawab untuk perencanaan masa depan, pengontrolan emosi, pengontrolan diri dan konsekuensi, serta pengambilan keputusan. Bagian otak ini akan matang di usia 25 tahun.

Nah, bayangkan jika konten pronografi sudah diekspos ke anak-anak kita?

“Ah, anak saya, kan, masih kecil, balita, mana ngerti?”

“Anak saya anteng kalau dikasih gadget”

“Anak saya tertarik banget sama gadget, soalnya”

Ya, semakin berkembangnya zaman, memang kehadiran gadget memudahkan hidup kita. Tanpa sadar, terkadang pengasuhan anak juga kita serahkan ke gadget. Ngaku, nih, saya sering membiarkan Langit nonton TV sendiri sementara saya melakukan hal lain atau kasih handphone yang ada games ‘Fruit Ninja’ kalau saya sedang asyik nonton TV. Atau yang sejak hamil atau sambil menyusui, mantengi Twitter, mana suaranyaa..? :D

Nah, anak, kan, produk tiruan. Siapa yang ditiru? Ya, orang terdekatnya, dong. Siapa itu? Ya, orangtuanya. Jika sejak kecil anak melihat kita mesra sama gadget, nggak heran anak-anak juga lebih mesra sama gadget ketimbang sama kita.

Kalau sudah begini, siapa yang salah? Coba bertanya pada diri sendiri, siapa yang menyediakan koneksi internet di rumah? Siapa yang memutuskan berlangganan TV kabel di rumah? Hehehe *speechless*

Dari responden di atas, tempat anak melihat materi pornografi, 32% lihat di rumah sendiri, 16% bioskop, 12% warnet. Sisanya dari telepon selular sopir, rumah teman, dan jengjenggg … VCD punya mama dan bbm grup mama (!!!). Beware parents, menurut hemat saya, jika orangtua menyimpan atau memiliki konten pornografi, JANGAN  simpan atau dibawa ke rumah, deh. Seaman-amannya tempat penyimpanan, kita nggak pernah tahu, kan?

Ibu Elly Risman menunjukkan beberapa situs permainan anak, tapi ternyata mengandung konten pornografi. Entah itu di dalam games, atau tiba-tiba pop up iklan yang muncul. Sangat mengagetkan, lho, melihat isinya. Pastikan kita juga tahu apa games yang dimainkan anak. Jangan cuma lihat cover-nya (banyak sekali games yang jelas-jelas ada tanda 18+ atau M yaitu Mature, tapi dimainkan oleh anak-anak) tapi coba dampingi anak saat memainkannya. Contoh, nih, ya … ada games yang konon lagi hits di kalangan anak SD, judulnya ‘Rape Play’. Kebayang nggak isinya apa?

Lalu, bagaimana menetralkan jika anak-anak sudah kecanduan perangkat digital atau malah (amit-amit) pornografi?

    Rumuskan ulang pola pengasuhan dengan pasangan. Menurut Ibu Elly, banyak sekali pasangan yang menikah, punya anak, tapi lupa merumuskan pola pengasuhan. Ini mengakibatkan tidak konsistennya peraturan dalam sebuah rumah sehingga banyak anak merasa bingung harus mengikuti ayah atau ibu.

    Bedakan pola pengasuhan antara anak perempuan dan laki-laki. Anak laki-laki di atas usia 7 tahun butuh banyak waktu dengan ayah untuk mengenal dunia laki-laki. Sementara anak perempuan tetap butuh peran ayah, karena pelukan atau  penghargaan dari ayah akan membuat dirinya merasa berarti.

    Jika anak sudah telanjur terekspos pada konten pornografi, jangan panik atau marah. Tanyakan anak apa penyebabnya, lalu minta maaf pada anak. Patut disadari, peran orangtua baik langsung atau tidak langsung pasti ada di sana. Jangan gengsi untuk minta maaf sama anak, ya :)

Pada intinya, anak membutuhkan validasi 3P: Penerimaan, Penghargaan, dan Pujian. Sudahkah kita melakukannya?

Menghindari Kekerasan Seksual Pada Anak


Menghindari Kekerasan Seksual Pada Anak

Seberapa sering kita mendengar berita mengenai tindak kekerasan seksual pada anak-anak? Sering? Apa reaksi kita sebagai orangtua? Takut? Khawatir? Cemas? Bingung? Marah? Apapun yang dirasakan, pernahkah kita refleksi sendiri, bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita?

Menggantikan baju di muka umum, misalnya. “Ah, anak saya baru 4 tahun, nggak apa-apalah.” Atau memakaikan pakaian renang ala bikini dengan alasan, “Lucu, lagipula masih 2 tahun ini.” Hello, masih ingat berita mengenai perkosaan terhadap bayi usia 8 bulan tahun lalu?

Urusan kekerasan seksual, untuk usia berapa pun, saya rasa kita wajib parno!

Jika dulu biasanya yang menyukai anak-anak secara seksual disebut sebagai pedofili, maka hemat saya sekarang ini, semua bisa melakukannya. Amit-amiiiiit jangan sampe (terjadi)!

Makanya, ketika tema dari salah satu seminar Tetralogy Supermoms adalah Hindari Anak Dari Kekerasan Seksual, saya mengikutinya dengan seksama. Ini masalah serius sekali. Bukan karena anak saya perempuan, tapi bagi semua orangtua masalah ini penting.

Warning: artikel ini akan banyak sekali kalimat tanya, karena memang banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab secara jujur dan terkejut dengan jawabannya :D

Apa saja yang termasuk kekerasan seksual?
Menunjukkan kemaluan, membelai anak atau menyentuh bagian sensitif anak, atau bahkan melakukan perkosaan.

Yang ‘enteng’ seperti mengolok-olok atau bercanda yang menjurus porno atau menyingkap rok teman, misalnya juga termasuk tindak kekerasan seksual.

Siapa yang melakukannya?
Ternyata, di negara manapun, pelaku tindak kekerasan  seksual anak adalah orang yang dikenal. Mereka melakukannya dengan mengancam atau merayu anak.

Kenapa bisa terjadi?
Saya tidak mau membahas dari sisi pelaku. Satu kata saja, sih, untuk mereka: rusak! Ya, rusak mentalnya karena pengaruh pornografi yang semakin merajalela. Seberapa sering kita melihat berita perkosaan atau kekerasan seksual di mana pelakunya kemudian mengakui bahwa mereka baru melihat konten pornografi?

Dari sisi sebagai orangtua, kita sering menghiraukan perasaan anak. Kebanggaan kita kadang hanyalah seputar kalau anak pintar makan, pintar menulis, membaca, juara kelas, rajin belajar, dan hal-hal fisik semacamnya. Bagaimana dengan perasaan mereka? Konsep diri mereka? Sudahkah kita memikirkannya? Sudahkah kita mengajarkannya?

Saya berbagi cerita sedikit, beberapa waktu lalu, ada seorang anak dari kerabat saya yang mengalami tindak kekerasan seksual. Ia baru duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Setelah menjadi korban, ia tidak bercerita pada ibunya, ia memilih untuk bercerita pada temannya. Temannya ini lalu cerita ke mamanya, dan mamanya lah yang bercerita pada kerabat saya tersebut.

Pahamkah maksud saya? Kita memang harus berperilaku sebagai orangtua, tapi tetap kita harus menjadi orang kepercayaan anak. Di mana anak harus bisa bercerita masalah apapun kepada kita. Terutama jika musibah terjadi pada dirinya.

Sakit sekali hati kerabat saya saat itu. Sudah anaknya menjadi korban tindak kekerasan seksual, ia merasa tidak dipercaya pula karena buah hatinya memilih menceritakan tragedi itu ke temannya, bukan ke ibunya.

Singkat cerita, si pelaku ‘diadili’ oleh pemuka agama sekitar. Ia pun mengaku bahwa sering menyaksikan konten pornografi. Dan salah satu konten tersebut ia dapatkan dari, jengjeng ... HP milik mamanya. Ingat artikel Mendidik Anak Di Era Digital?

O, ya, pelaku masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, lho!
Yang bisa kita tarik dari cerita ini adalah, komunikasi itu penting! Bukan sekedar, “Kamu udah makan belum?”, “Ada PR nggak, hari in?”, “Ayo, mandi dulu”, “Besok ulangan, sudah belajar belum?”, “Kamu main melulu, belajar dong!”. Apalagi kalau kita melakukannya sambil melakukan hal lain, seperti misalnya pegang smartphone, scrolling timeline Twitter #jleb.

Kenali anak, siapa sahabatnya, di sekolah bergaul dengan siapa, perasaannya hari itu bagaimana. Sisihkan waktu setiap hari untuk menjalin komunikasi. Di mana antara kita dan anak hanya ngobrol, tidak diganggu dengan hal lain.

Ajari anak untuk berpikir kritis. Caranya bagaimana? Dengan memberikan kesempatan anak untuk memilih, bukan menjalankan perintah. Misalnya, “Kamu mau makan apa hari ini?” bukan “Kamu makan pakai telur saja, ya” (itu contoh mudahnya). Contoh lain, “Pacaran itu apa ya, Ma?”, jangan buru-buru menjawab “Eh, anak kecil nggak boleh pacaran.” Tahu, kan, manusia itu semakin dilarang malah jadi penasaran? Sebaiknya, tanyakan pada anak, “Menurut kamu pacaran itu apa?”, dari jawabannya ini, baru kita bisa memberikan jawaban lagi. Kalau saya, sih, dengan jawaban si anak, setidaknya kita bisa cek sejauh mana pembicaraan anak dengan teman-temannya (asumsi bahwa kata pacaran ini dibicarakan oleh anak dengan teman-temannya, ya)

Pertanyaan-pertanyaan pada anak, membuat anak berpikir dan memeriksa dirinya. Mungkin jawaban yang didapat nggak penting, tapi yang penting adalah proses berpikir yang telah terjadi di otak anak.
Ah, ya, ini bukan hanya tugas ibu, lho! Ayah juga wajib!

Seperti telah disinggung dimana-mana, peran ayah dalam pola asuh memberikan kontribusi besar dalam konsep diri anak. Ayah mengajarkan anak lebih berani dan jika ayah bisa mengungkapkan rasa kasih sayangnya, anak akan merasa dirinya berharga. Kenapa? Karena para ayah umumnya dikenal minim campur tangan untuk urusan keseharian anak. Karena hal ini lah,maka yang pantas memberitahukan anak mengenai konsep diri adalah ayah. “Kamu sangat berharga buat ayah”, kebayang nggak Mommies, kalau ayah kita berbicara hal itu pada kita?
Bukan hanya kerjasama antara ayah dan ibu sangat penting, tapi dengan lingkungan sekitar juga.
Pertama, lingkungan yang ikut dalam pengasuhan, misalnya nenek/ kakek, pengasuh/ pembantu, bahkan sopir juga termasuk. Jelaskan pada mereka tujuan atau rumusan pengasuhan yang dimiliki oleh ibu dan ayah. Pastikan mereka memahami dan menghargai tujuan tersebut sehingga mereka mau mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku dalam keluarga. Apa itu rumusan pengasuhan? Baca wawancara saya dengan Ibu Elly Risman, deh!

Kedua, kerjasama dengan tetangga, sekolah atau orangtua teman si anak. Dengan yang terakhir ini kita bisa saling membantu untuk menjaga dan mengawasi anak-anak kita. Ingat cerita saya mengenai pertemanan dengan sesama orangtua murid di sekolah? Saya rasa ini bermanfaat, kok. Kadang kita memang tidak nyaman masuk ke lingkungan baru, tapi percayalah, bagi para working mommies, salah satu sumber terpercaya mengenai kecurigaan terhadap sesuatu di lingkungan sekolah adalah dari para orangtua murid.

Ketiga, kerjasama dengan lingkungan rumah (RT/RW), misalnya mengawasi warnet atau lokasi penyewaan permainan (rental PS, komik atau semacamnya), pastikan bahwa disana tidak ada konten-konten yang merusak anak-anak kita.

Setelah itu, ajari anak untuk membedakan antara orang asing, kenalan, sahabat, teman, kerabat atau muhrim. Pasti menyenangkan, ya, kalau punya anak ramah dengan siapapun yang baru saja ditemuinya, tapi di zaman yang semakin edan ini, parno itu wajib!

Yang terpenting lagi, ajari anak mengenai sentuhan. Ibu Elly Risman membagi jadi 3 sentuhan:
  • Sentuhan boleh atau baik, jika dilakukan di atas bahu atau di bawah lutut. Catatan, sentuhan ini dengan menggunakan tangan. Jadi kalau mencium bagaimana? Menurut saya, hanya bisa dilakukan untuk kerabat saja. O, ya, untuk pasangan yang sering bertukar cium, sebaiknya agak berhati-hati, ya, karena biar bagaimana anak adalah peniru ulung. Kalaupun melakukannya di depan anak, jelaskan pada mereka bahwa ciuman (entah di dahi, pipi atau bibir yang dilakukan) itu hanya boleh dilakukan oleh siapa dan dalam keadaan bagaimana.
  • Sentuhan yang membingungkan, dilakukan di bawah bahu hingga atas lutut. Kenapa membingungkan, bagaimana kalau merangkul? Memeluk? Membingungkan karena harus bisa dibedakan maksud dan tujuan seseorang melakukan sentuhan tersebut. Tapi ajari anak untuk merasa waspada pada sentuhan model ini.
  • Sentuhan jelek atau terlarang, bagian yang tertutup pakaian renang. Kalau sudah melakukan sentuhan di area ini, anak HARUS berani menolak.
Masa, sih, segitu parnonya?

Percaya kan kalau anak punya insting? Anak saya termasuk ramah pada orang lain, tapi jika sekali waktu dia nggak mau bersalaman atau kenalan sama orang baru, maka saya percaya instingnya mengatakan sesuatu, entah apa, tapi ada hal yang membuat ia tidak nyaman. Untuk anak yang sudah lebih besar, ajari ia untuk mempercayai instingnya.

Lalu ajari anak untuk berani berkata tidak pada saat ia merasa dirinya terancam oleh orang lain.
Tentu semua ini hanya bisa terjadi jika komunikasi kita dengan anak terjalin dengan baik. Sekedar mengingatkan, yuk, baca artikel Tekhnik Komunikasi Dengan Anak.

Jika semua sudah dilakukan dan dirasa sudah bisa diterapkan, langkah selanjutnya adalah berdoa. Yap, sekuat-kuatnya manusia, ia butuh bantuan ‘invisible hand’ kadang-kadang :)

Romantisme Semu dan Cinta Palsu

Romantisme Semu dan Cinta Palsu


belum juga jadi suami, tapi minta diperlakukan kayak suami | tanggung jawab nggak mau, tanggal nikah nggak punya

belum juga jadi istri, mau-maunya dipelakukan kayak istri | dilihat, diraba, diterawang, rugi deh..

temen bukan, suami-istri masih jauh, hubungan berdasar janji nggak pasti | besok pas udah diputusin, dikasi gelar "bekas gue", waduh

dosa udah pasti dapet, susah juga iya, sakit ati sering, mau-maunya makan harapan palsu | masa lalu kelam, masa depan suram, kini seram..

cowok sih enak, dia kan subjek pelaku, lha ini cewek, objek penderita euy | mau-maunya, di-PHP

cowok mah nggak ilang apa-apa, makanya gampang move-on | lha cewek? udah ngasi segala, sayangnya ngasinya ke pelaku maksiat, begitu deh..

Baca selengkapnya »

5 Cara Menghukum Anak yang Tidak Dibenarkan Dalam Islam

5 Cara Menghukum Anak yang Tidak Dibenarkan Dalam Islam



  1. Memukul wajah Rasulullah S.A.W melarang memukul muka berdasarkan sabda Baginda yang bermaksud, “Jika salah seorang dari kamu memukul, maka hendaknya dia menjauhi (memukul) wajah.” 
  2. Menampakkan kemarahan yang sangat Ini juga dilarang kerana bertentangan dengan amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah orang yang kuat itu diukur dengan kuatnya dia berlawan, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah."
  3. Memukul di dalam keadaan sangat marah Dari Abu Mas’ud al-Badri, dia berkata, “(Suatu hari) aku memukul budakku (yang masih kecil) dengan cemeti, maka aku mendengar suara (teguran) dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Akan tetapi, aku tidak mengenali suara tersebut kerena kemarahan (yang sangat). Ketika pemilik suara itu mendekat dariku, maka ternyata dia adalah Rasulullah S.A.W dan Baginda berkata, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Maka aku pun melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyeksa) kamu daripada apa yang kami seksakan terhadap budak ini,’ maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan memukul budak selamanya setelah (hari) ini."
  4. Bersikap terlalu keras dan kasar Sikap ini jelas bertentangan dengan sifat lemah lembut yang diajar oleh Islam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang terhalang dari sifat lemah lembut, maka dia akan terhalang dari mendapat kebaikan.”
  5. Memukul dengan benda keras sehingga berbekas Ini juga dilarang oleh Rasulullah S.A.W. Sebaik-baiknya gunakan rotan yang tidak boleh mendatangkan kecederaan dan berbekas pada kulit. Menghukum dengan rotan dibolehkan dengan tujuan untuk memberikan peringatan kepada anak.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama

Diberdayakan oleh Blogger.